Bagiku tak ada bedanya jarak dekat ataupun jauh. Karena semua jarak memang menyiksa. Ketika aku disampingmu pun aku tak kuasa untuk berbuat lebih padamu. Tanpa kata aku hanya mampu berdiam memalingkan muka ke arah yang lain agar aku tetap mampu menahan airmata kerinduanku ketika menatapmu. Aku tak mampu mengatur setiap degup jantungku yang entah kenapa kala itu terasa berdetak lebih cepat.
Aku lebih memilih diam tak bicara sebelum kau mengajakku berbicara. Aku lebih memilih mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan dan merasakan betapa hangat genggaman tanganmu di tangan kiriku. Aku hanya menjadi penikmat senyum dan tawa terkekehmu ketika kau menceritakan hal-hal lucu yang (mungkin) bagi orang lain terkesan sangat garing.
Rindu ini memang tak pernah usai. Aku pun tak ingin menyelesaikan rindu ini. Bagiku setiap detakan jantung kerinduan, aku hanya mampu beristigfar saja tanpa harus memaksa untuk bertemu. Bagiku rindu yang datang akan sangat menyenangkan jika ditutup dengan pertemuan kecil yang mengesankan.
Dan apakah kau ingat? Ketika jarak berkilo-kilo meter antara tempat tinggalmu dan tempat tinggalku, kala itu kita saling mengucap perpisahan yang mungkin terasa sangat menyakitkan. Kau berkata "Nikmati saja rindu ini, semua akan indah ketika kita bertemu nanti". Namun percayalah, bahwa itu tak akan menjadi mudah buatku. Aku terlalu khawatir terhadap perpisahan. Aku selalu takut akan hal-hal yang kurasa... entahlah. Mungkin memang aku yang terlalu naif mengartikan sebuah perpisahan.
Jarak yang memang menyiksa. Iya. Ketika kita tak bertatap muka. Ketika kita tak bersapa, bersua, bercanda, bicara. AHHHH~ Andaikan mampu kusudahi jarak diantara kita .
SURABAYA. 14 JANUARI 2014
07:14 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar