Selasa, 14 Januari 2014

Sosok


Aku terpaku
Iya; pada sosok semu didepanku
Aku termangu
Ketika sosok itu memberikan senyum tulus kepadaku
Aku bertanya
Adakah sesuatu di balik senyuman tulus itu?
Inikah?
Kenapakah?
Haruskah?
Aku semakin tak tau bagaimana
Dengan apa? Cara seperti apa?
Yang harus aku perlihatkan pada sosok ini
Aku bingung.
Bingung harus menempatkan diri dimana
Bingung harus memasang mimik muka seperti apa
Namun nyatanya aku lebih memilih diam tak berbicara
Memalingkan muka dan merasakan genggaman tangannya
Aku mencintainya dalam jarak yang sangat dekat
Aku mengaguminya dalam setiap tatapan hangatnya padaku
Aku selalu memeluknya dalam doa ketika sujud malamku


Untuk yang terkasih  :)
Surabaya, 14 Januari 2014

Senin, 13 Januari 2014

Jarak


Bagiku tak ada bedanya jarak dekat ataupun jauh. Karena semua jarak memang menyiksa. Ketika aku disampingmu pun aku tak kuasa untuk berbuat lebih padamu. Tanpa kata aku hanya mampu berdiam memalingkan muka ke arah yang lain agar aku tetap mampu menahan airmata kerinduanku ketika menatapmu. Aku tak mampu mengatur setiap degup jantungku yang entah kenapa kala itu terasa berdetak lebih cepat. 

Aku lebih memilih diam tak bicara sebelum kau mengajakku berbicara. Aku lebih memilih mendengarkan setiap kata yang kau ucapkan dan merasakan betapa hangat genggaman tanganmu di tangan kiriku. Aku hanya menjadi penikmat senyum dan tawa terkekehmu ketika kau menceritakan hal-hal lucu yang (mungkin) bagi orang lain terkesan sangat garing.

Rindu ini memang tak pernah usai. Aku pun tak ingin menyelesaikan rindu ini. Bagiku setiap detakan jantung kerinduan, aku hanya mampu beristigfar saja tanpa harus memaksa untuk bertemu. Bagiku rindu yang datang akan sangat menyenangkan jika ditutup dengan pertemuan kecil yang mengesankan.

Dan apakah kau ingat? Ketika jarak berkilo-kilo meter antara tempat tinggalmu dan tempat tinggalku, kala itu kita saling mengucap perpisahan yang mungkin terasa sangat menyakitkan. Kau berkata "Nikmati saja rindu ini, semua akan indah ketika kita bertemu nanti".  Namun percayalah, bahwa itu tak akan menjadi mudah buatku. Aku terlalu khawatir terhadap perpisahan. Aku selalu takut akan hal-hal yang kurasa... entahlah. Mungkin memang aku yang terlalu naif mengartikan sebuah perpisahan.

Jarak yang memang menyiksa. Iya. Ketika kita tak bertatap muka. Ketika kita tak bersapa, bersua, bercanda, bicara. AHHHH~ Andaikan mampu kusudahi jarak diantara kita .


SURABAYA. 14 JANUARI 2014
07:14 WIB

Membasuh Luka; Bersamamu

Membasuh Luka; Bersamamu


Kau ingat pagi itu
Pagi itu aku masih berselimut duka
Begitu juga kau
Kau masih berselimut kegelisahan

Kita dipertemukan
Iya, dalam keadaan sederhana
Dalam waktu yang tidak terduga
Kita berdua; hanya berdua

Kau bertanya
Apakah ada yang mengganjal dihatiku
Ku jawab
Tak ada satupun, tentu kau tahu; aku berbohong

Hujan
Aku sangat takut pada hujan
Kau?
Kau begitu menyukai hujan

Kau mulai datang
Datang perlahan dengan haluan
Rasa merangkak perlahan
Di dinding hatiku terdalam

Aku dan kau
Iya; sekarang aku dan kau
Membasuh luka bersama
Mengubur kenangan pahit dengan hal baik disana

Mungkin kita memang berbeda
Berbeda dalam segi apapun
Iya; kecuali cinta